Skip to main content

Rohingya

Sejak dulu kala aku mendengar sejarah
Dari Koloni yang berkuasa sampai ironi yang saat ini terjadi
Aku juga pernah melihat
Tentang kemakmuranmu sampai saat ini susah payah
Berbagai tudingan di sematkan
Oleh  mereka pemegang kekuasaan
Rohingya
Kau saat ini masih manusia
Yang butuh makan, minum dan segala aktivitas biasa
Kau bukanlah kotoran yang seenak di buang kesini kesana
Dengan alasan tanpa logika manusia
Rohingya
Oh Rohingya
kau tertulis dimana mana
Di online ataupun offline
Hanya satu yang diharapkan
Kau hidup bagaimana layaknya kehidupan
Memang tidak mudah untuk menjalani
Sebelum semua dudukan kursi berdiskusi
Butuh waktu panjang untuk mengakhiri
Tapi cukup untuk saat ini
Bahwa sebagian kalian masih bisa hidup
walaupun cuma mengungsi
Jangan ada lagi berita tentang kematian dan penyiksaan
atas kelian manusia ciptaan tuhan



Depok. 11-09-2017

Comments

Popular posts from this blog

Bersama Rojab

Kipas angin membantu aku berpikir. Malam yang semakin sunyi membisikan kata "tidurlah, sudah malam alfin". Gangguan dari makhluk tak berkasat mata juga perlahan lahan mulai kasar. Menderu, bersuara pelan sambil menertawakan.  Malam ini tidak ada pensil dan kertas, hanya satu laptop, buavita, Hp Xiomy, korek, gudang garam dan suara orang yang sedang berdiskusi. Makhluk tuhan yang bernafas sudah banyak yang tertidur, lelah terkena teriknya matahari siang. Tidak ada suara apapun dari mereka, hanya orokan yang sesekali bersuara mengagetkan. Malam ini aku kembali merenungi, bahwa aku telah jauh dari diriku sendiri. Aku menjauh dari apa yang seharusnya aku dekat. Semua berjalan begitu dekat hingga aku lupa pada hari hari yang telah dimuliakan oleh baginda rosul.  Mulai dari hari ini aku tersadar dan besok pudar kembali. Sudah menjadi satu hal yang biasa terjadi. Melupakan janji diri sendiri yang selalu terucap di kamar mandi sudah biasa juga aku lakukan. Aku menjadi sak...

Memulai

  Malam hari ini aku tersiksa dengan kebiasaan yang melingkupi. Ada kejenuhan yang perlahan mulai menggerogoti naluri untuk berkreasi. Banyak hal yang saya lakukan tapi juga   banyak yang harus saya tinggalkan. Menjadi seimbang memang gampang ketika diucapkan. Sudah sekian lama aku tidka bergelut dengan bacaan dan tulisan. Rasanya hampa tak bertepi seperti senandung lagu lagu kerena jaman sekarang. Rasanya tak berasa lagi bahwa aku pernah menjadi pelajar yang selalu bejar. Masa lalu memang indah untuk dikenang tapi masa lalu kemarin cepat sekali menjadi pengingat untuk saat ini. Aku bingung. Mulailah…..Mulailah dari kebingungan yang melanda. Bercerminlah.

Matinya keaneragaman

Inilah wujud kebodohan Di negeri yang katanya berbudaya Keragaman hilang sirna di buang Sampai terkebirinya arti kemanusiaan Kekerasan menjadi acuan Untuk merealisasikan keinginan Toleransi tasamuh taawun dan nilai yang lain dihilangkan Hanya untuk dapat pengakuan Dialah yang patut menjadi panutan Aku kasihan dengan mereka Mereka yang berteriak dan cinta kekerasan Yang tak mengerti arti perbedaan Yang akhirnya di tunggangi oleh mereka pemilik kepentingan. Depok, 6-11-2016