Skip to main content

Cewek Cantik Itu Bangke!


Siang itu matahari malu untuk menampakkan dirinya. Awan berselimut dalam hamparan langit yang seharusnya membiru. Aku mulai berjalan pada pikiran yang sudah aku putuskan. Sebuah perjalanan. Perjalanan panjang yang aku rasa akan ada harapan untuk menemukan yang seharusnya aku jalani selama ini.

Aku datang datang bersama adik perempuan ku. Namanya Ayu. Seorang adik yang berkarakter kuat ketika keluar dan mati ketika didalam rumah sendiri. Aku dan Ayu adalah kakak beradik yang dapat dikatakan kompak. Sifat yang sama hingga tujuan yang sama untuk ikut serta membangun peradapan dunia.

“Kita mau lewat mana, mau lewat selatan atau arah utara”, tanya aku. Ayu pun menjawab dengan santainya “ aku ikut saja mas, aku orang asli sini tapi tidak tahu apa apa tentang tempat tinggal kebanggan ku ini”. Memang aneh generasi orang orang gen X, mungkin karena dunia mereka luas hingga lupa pada dunia yang membentuknya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk melalui jalur utara yang kata teman teman ku lebih pendek dari pada jalur selatan. Walaupun jalannya bergelombang dan naik turun. Akhirnya aku memantapkan diri untuk lewat situ. Tidak lama berselang sekitar  berjalan 5 menit, memang benar. Jalannya bergelombang, naik dan turun. Samping kanan kiri diliputi dengan hutan lebat milik perhutani. Perkampungan begitu longgar hingga aku merasa mulai ketakutan. Apakah ini akan benar benar sampai pada tujuan?

Jalanan sepi, tidak ada tanda orang lewat atau menyalip. Aku mulai tambah cemas ketika bensin pun mulai menipis menunjukkan arah merah. Aku mulai berpikir jikalau motor ini mati aku akan nge WA teman teman ku untuk menjemputku. Hidup di jaman modern seperti ini memanglah sangat enak. Dalam kondisi apapun, bagaimanapun, kapanpun dan dimanapun selalu ada rasa aman untuk melakukan apapun yang kita mau. Walaupun tak mengenakkan bagi yang lain. Setelah satu jam berjalan akhirnya kecemasan aku dan adikku mulai berkurang, dari atas jalan yang aku lewati, mulai terlihat tanda tanda kehidupan. Suara desing motor dan kumandang adzan mulai terdengar. Hingga pada akhirnya tibalah aku dan adikku di tempat  yang kita tuju.

Suasana kembali tegang, aku mulai melihat orang orang yang berbaju sama dengan ku. Wajah mereka nampak tenang dan menunjukkan sedikit keangkuhan. Banyak dari mereka tertawa dan melihat aku dan adikku seperti tidak sama dengan mereka. Aku berkata dengan adikku “ adikku tenang saja, kita sama, hanya berbeda, kita muda mereka tua. Sudah biasa orang tua tidak mau mengalah sama yang muda seperti praktik politik jaman sekarang”. Adikku pun tertawa terbahak bahak “ha ha ha jancuk sampean mas, iya mas santai”. Mulai dengan obrolan kecil kecilan aku dan adikku mulai merasa tenang sambil menunggu apa yang seharusnya kita kerjakan. Beberapa menit kemudian ada orang yang bertanya “ dari mana kamu mas?”. “Saya dari negeri kresna mas”, jawab aku. “Lho kog kita sama, sampean di sini atas rekomendari siapa?, padahal dari negeri kresna sudah sesuai dengan yang direkomendasikan oleh patih kresna”. Aku melihat wajah orang tersebut dengan tatapan yang tajam. Sorotan matanya mengisyaratkan keangkuhannya. “Aku di sini rekomendari atas diriku sendiri. Emang kenapa mas?” jawab saya. “Iya tidak apa apa, silahkan saja” jawab orang tersebut dengan berbicara sambil berjalan.

Memang perjalanan ini, aku dan adikku tidak tahu apa apa, aku hanya di suruh datang sama bapak untuk belajar menuntut ilmu. Melihat kondisi sekitar yang tidak aku inginkan, aku mulai frustasi dan bingung. Aku mulai berjalan jalan dan berharap menemukan orang yang aku kenal. Yap, tak berselang aku menemukan orang yang sebenarnya aku cari. Namanya Robert, seorang pejuang dari 98 yang saat ini telah menjadi orang yang luar biasanya pada zamannya. Sudah beristri dan punya anak. Karya juga sudah cukup jika dikatakan sebagai seorang novelis. “ Hai, sudah lama kau di sini?”, tanya robert. “lumayan lama, gimana ini jadinya. Aku benar benar bingung Robert, aku kasihan sama adikku jadi ikut kebingungan”, ucap aku. “Tenang saja nanti langsung masuk aja, tidak usah pergi ke sana, itu hanya untuk para budak yang haus akan jabatan”, ucap Robert. Pikirku langsung bicara “ealahh orang yang tadi nanya aku itu adalah seorang budak”. “Siap Robert, aku dan adikku langsung masuk, terima kasih sekali lagi ya” ucap aku.
***
Tak berselang lama setelah menikmati teh dan jajanan pasar yang disediakan. Orang orang besar dengan pangkat tertempel begitu banyaknya masuk ke dalam ruangan. Tidak ada suara, semua diam terpaku pada tempat duduknya. Terdengar suara dari ujung depan “Hormatttttttt Grakkkkk”. Semua ikut hormat begitu juga aku. Aku berpikir bahwa orang orang tersebut adalah penyebar ilmu hingga aku menjadi sekarang ini. Setelah orang orang tersebut duduk, mereka langsung membagikan sebuah kertas yang berisi tugas tugas yang harus dilaksanakan. Tidak butuh waktu lama, aku adalah orang pertama yang mampu menyelesaikan tugas tersebut. Kemudian disusul oleh adikku. Aku dan adikku selalu diberi pesan oleh bapak bahwa kita harus menjadi orang yang jujur dalam kondisi apapun dan dimanapun. Para budak yang berada di sekililingku saling sibuk untuk memecahkan masalahnya. Ada yang melihat ke atas, ke samping hingga mencari dunia yang benar benar tidak masuk akal.

Aku bergumam di dalam hati “memang pesan bapak sangatlah benar, dimanapun tempatnya harus menjadi orang yang jujur. Janganlah menjadi sama dengan orang lain, menjadi berbeda adalah sebuah keharusan”. Kenapa harus berbeda? Tuhan telah menciptakan banyak makhluk yang berbeda. Walaupun sama secara fungsinya tidak ada yang sama dari segi fisiknya. Tuhan telah menciptakan kita dengan perbedaan yang oriental tapi sekarang manusia malah berusaha untuk menjadi sama antara satu dengan yang lain.

Setelah beberapa saat, semua orang telah selesai dengan tugasnya. Tiba tiba aku di WA sama seseorang yang tidak aku kenal sebelumnya. Dia mengirimkan pesan yang berbunyi “ halo kak, salam kenal. Saya ada di sini juga lho”. Aku pun terkaget, langsung saja aku buka foto profil WA nya. Benar saja, dialah orang yang memang telah datang dalam mimpiku sebelum ini. Badanku gemetar tak beraturan, rambut tiba tiba menjadi panas hingga aku harus melepaskan peci yang menempel. Tanganku tak bergerak dan hanya memegang hp yang terus aku pandangi.

Aku tak berani membalas, aku juga tidak berani untuk menengok ke kanan, kiri, depan dan belakang. Aku duduk was was. Tiba tiba semua orang yang hadir di dalam ruangan itu disuruh keluar. Aku dan adikku keluar. Setelah sampai di luar ruangan, aku berdiri berbicara dengan orang orang di sekelilingku. Tiba tiba ada perempuan lewat di depan aku, sambil menarik bibir bagian kanan dan kiri sambil menunduk melihat aku.

Aku tak bergerak, hingga teman obrolanku mengoyak oyak badanku. “Hai,  kenapa kamu, keram kamu ya”, tanya teman. Aku benar benar lemas melihatnya. Matanya yang bersinar berkelinang, hidungnya yang rapih tanpa noda, dan pipinya yang halus tak berkelok telah meluluh lantakan hati seorang laki laki kuat. Mulai sejak itu, aku terus terbayang bayang dirinya. Ingin ku tahu namanya tapi tidak berani. Aku terus kebingunan. Sampai aku tidak fokus dan lupa pada tujuan awal untuk belajar.
***
Tiupan peliut telah banyak menugaskan badan ini untuk bergerak. Banyak guru telah membuat pikiran ini ingin beristirahat. Tapi hati ini terus bergerak dan bertanya tanya “dimanakah wanita cantik itu?”. Sudah tiga hari tidak ada tanda tanda dia ada di sini. Aku pun mulai murung dengan kondisi saat ini. Aku tak bersemangat untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Aku hanya berjalan jalan di sekitar lokasi hanya untuk meratapi nasib yang menimpa ku ini. Aku tidak berpikir apa apa. Hingga adikku berkata “kak, kenapa kau ini, ada masalahkah, Jangan begitu terus kak, kita datang ke sini sudah banyak yang dikorbankan. Banyak harapan yang menunggu kita pulang”, ucap adikku.

Mulai dari ucapan adikku tersebut aku berpikir dan merenung atas apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku menyebut diriku sendiri sebagai laki laki kuat tapi lemah  karena masalah wanita yang tidak jelas. Aku mengaku laki laki kuat tapi lemah pada hal hal yang seharusnya tidak aku pikirkan. “Tuhan, ampuni aku, aku telah lalai pada kewajibanku, aku telah banyak mengecewakan orang lain”, ucap aku.

Akhirnya dengan semangat yang mulai aku bangun, aku berusaha untuk menghilangkan pikiran wanita itu dan berganti dengan apa yang seharusnya aku pikirkan. Perlahan lahan aku mulai mengajar ketertinggalanku dengan manusia manusia yang lain. Segala sesuatu aku terjang hingga semua telah selesai tanpa aku merasa lelah.

Setelah beberapa hari aku dan adikku jalani tibalah saat kita untuk kembali pulang. Pulang dengan mambawa segudang pengetahuan dan merasa tidak sabar untuk menaburkan di pikiran pikiran makhluk lain. Kita berdua bersiap siap untuk menaiki motor. Baru aku mau menarik gas, tiba tiba wanita itu muncul dengan melihat aku. Dia memakai kacamata. Aku lemas dan pengen bertemu kepadanya. Aku hanya ingin mengatakan “siapa namamu?”. Namun, aku tidak berani mengejar. Aku tak kuasa menahan hati ini untuk terus berkelindan dalam setiap posisi. Aku perlahan lahan berjalan dengan motor ku. “Kak, oh itu yang membuat kakak salama ini tidak semangat, ingat kak. Ada yang menunggu di rumah, jangan mata keranjang kak”, ucap adikku. Mendengar ucapan tersebut aku langsung tersadar hingga langsung ku tarik gas motor dengan cepat.

Wonosobo/24/12/2019

Comments

Popular posts from this blog

Bersama Rojab

Kipas angin membantu aku berpikir. Malam yang semakin sunyi membisikan kata "tidurlah, sudah malam alfin". Gangguan dari makhluk tak berkasat mata juga perlahan lahan mulai kasar. Menderu, bersuara pelan sambil menertawakan.  Malam ini tidak ada pensil dan kertas, hanya satu laptop, buavita, Hp Xiomy, korek, gudang garam dan suara orang yang sedang berdiskusi. Makhluk tuhan yang bernafas sudah banyak yang tertidur, lelah terkena teriknya matahari siang. Tidak ada suara apapun dari mereka, hanya orokan yang sesekali bersuara mengagetkan. Malam ini aku kembali merenungi, bahwa aku telah jauh dari diriku sendiri. Aku menjauh dari apa yang seharusnya aku dekat. Semua berjalan begitu dekat hingga aku lupa pada hari hari yang telah dimuliakan oleh baginda rosul.  Mulai dari hari ini aku tersadar dan besok pudar kembali. Sudah menjadi satu hal yang biasa terjadi. Melupakan janji diri sendiri yang selalu terucap di kamar mandi sudah biasa juga aku lakukan. Aku menjadi sak...

Memulai

  Malam hari ini aku tersiksa dengan kebiasaan yang melingkupi. Ada kejenuhan yang perlahan mulai menggerogoti naluri untuk berkreasi. Banyak hal yang saya lakukan tapi juga   banyak yang harus saya tinggalkan. Menjadi seimbang memang gampang ketika diucapkan. Sudah sekian lama aku tidka bergelut dengan bacaan dan tulisan. Rasanya hampa tak bertepi seperti senandung lagu lagu kerena jaman sekarang. Rasanya tak berasa lagi bahwa aku pernah menjadi pelajar yang selalu bejar. Masa lalu memang indah untuk dikenang tapi masa lalu kemarin cepat sekali menjadi pengingat untuk saat ini. Aku bingung. Mulailah…..Mulailah dari kebingungan yang melanda. Bercerminlah.

Gigi 2

Menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Aku bertanya pada anak anak ku di MANASA, Apa definisi dewasa menurut kalian? Jawaban yang keluar bermacam macam, ada yang mengatakan bahwa dewasa adalah mereka yang mampu memberikan rasa aman, dewasa adalah mereka yang tidak mudah marah, dewasa adalah mereka yang kuat, dewasa adalah mereka yang mampu memberikan kenyamanan, dewasa adalah mereka yang mampu bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Sungguh menyenangkan mendengarkan pendapat mereka tentang arti dewasa menurut anak anak ini. Kemudian saya bertanya lagi, kalau adik adik punya pacar tentunya ingin memiliki pacar yang dewasa, nah dewasa menurut adik adik untuk pacar kalian nanti atau saat ini itu seperti apa? Beberapa anak menjawab “ dewasa adalah pacar yang bisa mengerti”, ada juga yang mengatakan “ dewasa adalah pacar yang mampu melindungi dan bertanggung jawab”. Satu kelas pun tertawa terbahak bahak mendengar jawaban dari anak anak yang berbicara seperti itu. Mereka tidak malu malu kar...