Siang itu matahari malu untuk menampakkan
dirinya. Awan berselimut dalam hamparan langit yang seharusnya membiru. Aku
mulai berjalan pada pikiran yang sudah aku putuskan. Sebuah perjalanan. Perjalanan panjang yang aku rasa akan ada harapan untuk menemukan yang seharusnya
aku jalani selama ini.
Aku datang datang bersama adik perempuan ku. Namanya Ayu.
Seorang adik yang berkarakter kuat ketika keluar dan mati ketika didalam rumah
sendiri. Aku dan Ayu adalah kakak beradik yang dapat dikatakan
kompak. Sifat yang sama hingga tujuan yang sama untuk ikut serta membangun
peradapan dunia.
“Kita mau lewat mana, mau lewat selatan atau arah utara”,
tanya aku. Ayu pun menjawab dengan santainya “ aku ikut saja mas,
aku orang asli sini tapi tidak tahu apa apa tentang tempat tinggal kebanggan ku
ini”. Memang aneh generasi orang orang gen X, mungkin karena dunia mereka luas
hingga lupa pada dunia yang membentuknya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk
melalui jalur utara yang kata teman teman ku lebih pendek dari pada jalur
selatan. Walaupun jalannya bergelombang dan naik turun. Akhirnya aku
memantapkan diri untuk lewat situ. Tidak lama berselang sekitar berjalan 5 menit, memang benar. Jalannya
bergelombang, naik dan turun. Samping kanan kiri diliputi dengan hutan lebat
milik perhutani. Perkampungan begitu longgar hingga aku merasa mulai ketakutan.
Apakah ini akan benar benar sampai pada tujuan?
Jalanan sepi, tidak ada tanda orang lewat atau menyalip.
Aku mulai tambah cemas ketika bensin pun mulai menipis menunjukkan arah merah.
Aku mulai berpikir jikalau motor ini mati aku akan nge WA teman teman ku untuk
menjemputku. Hidup di jaman modern seperti ini memanglah sangat enak. Dalam
kondisi apapun, bagaimanapun, kapanpun dan dimanapun selalu ada rasa aman untuk
melakukan apapun yang kita mau. Walaupun tak mengenakkan bagi yang lain. Setelah
satu jam berjalan akhirnya kecemasan aku dan adikku mulai berkurang, dari atas
jalan yang
aku lewati, mulai terlihat tanda
tanda kehidupan. Suara desing motor dan kumandang adzan mulai terdengar. Hingga
pada akhirnya tibalah aku dan adikku di tempat yang kita tuju.
Suasana kembali tegang, aku mulai melihat orang orang
yang berbaju sama dengan ku. Wajah mereka nampak tenang dan menunjukkan sedikit
keangkuhan. Banyak dari mereka tertawa dan melihat aku dan adikku seperti tidak
sama dengan mereka. Aku berkata dengan adikku “ adikku tenang saja, kita sama, hanya
berbeda, kita muda mereka tua. Sudah biasa orang tua tidak mau mengalah sama
yang muda seperti praktik politik jaman sekarang”. Adikku pun tertawa terbahak
bahak “ha ha ha jancuk sampean mas, iya mas santai”. Mulai dengan obrolan kecil
kecilan aku dan adikku mulai merasa tenang sambil menunggu apa yang seharusnya
kita kerjakan. Beberapa menit kemudian ada orang yang bertanya “ dari mana kamu
mas?”. “Saya dari negeri kresna mas”, jawab aku. “Lho kog kita sama, sampean di
sini atas rekomendari siapa?, padahal dari negeri kresna sudah sesuai dengan
yang direkomendasikan oleh patih kresna”. Aku melihat wajah orang tersebut
dengan tatapan yang tajam. Sorotan matanya mengisyaratkan keangkuhannya. “Aku
di sini rekomendari atas diriku sendiri. Emang kenapa mas?” jawab saya. “Iya
tidak apa apa, silahkan saja” jawab orang tersebut dengan berbicara sambil
berjalan.
Memang perjalanan ini, aku dan adikku tidak tahu apa apa, aku hanya di suruh
datang sama bapak untuk belajar menuntut ilmu. Melihat kondisi sekitar
yang tidak aku inginkan, aku
mulai frustasi dan bingung. Aku mulai berjalan jalan dan berharap menemukan orang yang
aku kenal. Yap, tak berselang aku menemukan orang yang sebenarnya aku cari.
Namanya Robert, seorang pejuang dari 98 yang saat ini telah menjadi orang yang
luar biasanya pada zamannya. Sudah beristri dan punya anak. Karya juga sudah
cukup jika
dikatakan sebagai seorang novelis. “ Hai, sudah lama kau
di sini?”, tanya robert. “lumayan lama, gimana ini jadinya. Aku benar benar bingung Robert, aku
kasihan sama adikku jadi ikut kebingungan”, ucap aku. “Tenang saja nanti
langsung masuk aja, tidak usah pergi ke sana, itu hanya untuk para budak yang
haus akan jabatan”, ucap Robert. Pikirku langsung bicara “ealahh orang yang
tadi nanya aku itu adalah seorang budak”. “Siap Robert, aku dan adikku langsung
masuk, terima kasih sekali lagi ya” ucap aku.
***
Tak berselang lama setelah menikmati teh dan jajanan pasar
yang disediakan. Orang orang besar dengan pangkat tertempel begitu banyaknya
masuk ke dalam ruangan. Tidak ada suara, semua diam terpaku pada tempat
duduknya. Terdengar suara dari ujung depan “Hormatttttttt Grakkkkk”. Semua ikut
hormat begitu juga aku. Aku berpikir bahwa orang orang tersebut adalah penyebar
ilmu hingga aku menjadi sekarang ini.
Setelah orang orang tersebut duduk, mereka langsung membagikan sebuah kertas
yang berisi tugas tugas yang harus dilaksanakan. Tidak butuh waktu lama, aku
adalah orang pertama yang mampu menyelesaikan tugas tersebut. Kemudian disusul
oleh adikku. Aku dan adikku selalu diberi pesan oleh bapak bahwa kita harus
menjadi orang yang jujur dalam kondisi apapun dan dimanapun. Para budak yang berada
di sekililingku saling sibuk untuk memecahkan masalahnya. Ada yang melihat ke
atas, ke samping hingga mencari dunia yang benar benar tidak masuk akal.
Aku bergumam di dalam hati “memang pesan bapak sangatlah
benar, dimanapun tempatnya harus menjadi orang yang jujur. Janganlah menjadi
sama dengan orang lain, menjadi berbeda adalah sebuah keharusan”. Kenapa harus
berbeda? Tuhan telah menciptakan banyak makhluk yang berbeda. Walaupun sama
secara fungsinya tidak ada yang sama dari segi fisiknya. Tuhan telah menciptakan
kita dengan perbedaan yang oriental tapi sekarang manusia malah berusaha untuk menjadi
sama antara satu dengan yang lain.
Setelah beberapa saat, semua orang telah selesai dengan
tugasnya. Tiba tiba aku di WA sama seseorang yang tidak aku kenal sebelumnya.
Dia mengirimkan pesan yang berbunyi “ halo kak, salam kenal. Saya ada di sini
juga lho”. Aku pun terkaget, langsung saja aku buka foto profil WA nya. Benar
saja, dialah orang yang memang telah datang dalam mimpiku sebelum ini. Badanku
gemetar tak beraturan, rambut tiba tiba menjadi panas hingga aku harus
melepaskan peci yang menempel. Tanganku tak bergerak dan hanya memegang hp yang terus aku pandangi.
Aku tak berani membalas, aku juga tidak berani untuk
menengok ke kanan, kiri, depan dan belakang. Aku duduk was was. Tiba tiba semua
orang yang hadir di dalam ruangan itu disuruh keluar. Aku dan adikku keluar.
Setelah sampai di luar ruangan, aku berdiri berbicara dengan orang orang di
sekelilingku. Tiba tiba ada perempuan lewat di depan aku,
sambil menarik bibir bagian kanan dan kiri sambil menunduk melihat aku.
Aku tak bergerak, hingga teman obrolanku mengoyak oyak
badanku. “Hai, kenapa kamu, keram kamu
ya”, tanya teman. Aku benar benar lemas melihatnya. Matanya yang bersinar
berkelinang, hidungnya yang rapih tanpa noda, dan pipinya yang halus tak berkelok telah meluluh
lantakan hati seorang laki laki kuat. Mulai sejak itu, aku terus terbayang
bayang dirinya. Ingin ku tahu namanya tapi tidak berani. Aku terus kebingunan.
Sampai aku tidak fokus dan lupa pada tujuan awal untuk belajar.
***
Tiupan peliut telah banyak menugaskan badan ini untuk
bergerak. Banyak guru telah membuat pikiran ini ingin beristirahat. Tapi hati ini
terus bergerak dan bertanya tanya “dimanakah wanita cantik itu?”. Sudah tiga
hari tidak ada tanda tanda dia ada di sini. Aku pun mulai murung dengan kondisi
saat ini. Aku tak bersemangat untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Aku hanya
berjalan jalan di sekitar lokasi hanya untuk meratapi nasib yang menimpa ku
ini. Aku tidak berpikir apa apa. Hingga adikku berkata “kak, kenapa kau ini,
ada masalahkah, Jangan begitu terus kak, kita datang ke sini sudah banyak yang
dikorbankan. Banyak harapan yang menunggu kita pulang”, ucap adikku.
Mulai dari ucapan adikku tersebut aku berpikir dan
merenung atas apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku menyebut diriku
sendiri sebagai laki laki kuat tapi
lemah karena masalah wanita yang tidak
jelas. Aku mengaku laki laki kuat tapi lemah pada hal hal yang seharusnya tidak
aku pikirkan. “Tuhan, ampuni aku, aku telah lalai pada kewajibanku, aku telah
banyak mengecewakan orang lain”, ucap aku.
Akhirnya dengan semangat yang mulai aku bangun, aku
berusaha untuk menghilangkan pikiran wanita itu dan berganti dengan apa yang
seharusnya aku pikirkan. Perlahan lahan aku mulai mengajar ketertinggalanku
dengan manusia manusia yang lain. Segala sesuatu aku terjang hingga semua telah
selesai tanpa aku merasa lelah.
Setelah beberapa hari aku dan adikku jalani tibalah saat
kita untuk kembali pulang. Pulang dengan mambawa segudang pengetahuan dan
merasa tidak sabar untuk menaburkan di pikiran pikiran makhluk lain. Kita
berdua bersiap siap untuk menaiki motor. Baru aku mau menarik gas, tiba tiba wanita
itu muncul dengan melihat aku. Dia memakai kacamata. Aku lemas dan pengen
bertemu kepadanya. Aku hanya ingin mengatakan “siapa namamu?”. Namun, aku tidak
berani mengejar. Aku tak kuasa menahan hati ini untuk terus berkelindan dalam
setiap posisi. Aku perlahan lahan berjalan dengan motor ku. “Kak, oh itu yang
membuat kakak salama ini tidak semangat, ingat kak. Ada yang menunggu di rumah,
jangan mata keranjang kak”, ucap adikku. Mendengar ucapan tersebut aku langsung
tersadar hingga langsung ku tarik gas motor dengan cepat.
Wonosobo/24/12/2019
Comments
Post a Comment