Skip to main content

Gigi 1


Ada banyak hari yang telah aku lewati. Begitu juga pengalaman yang terjadi. Sedih, senang, kecewa dan berbagai perasaan yang lain hampir menyelimuti ketika aku berjalan. Pada tahun 2019 ini aku catatkan sebuah catatan yang nantinya aku berharap dapat dilihat oleh anak anak ku ketika sudah terlahir di dunia. Jujur, semakin beranjak umur ku ini semakin pula aku harus menaikkan gigi mesin kehidupan ku. Ketakutan demi ketakutan mulai muncul satu persatu membayangi mata yang terbuka. Aku berusaha tegar, tegak dan gagah berdiri tapi memang bukan perkara yang mudah. Menjadi kuat dan meyakinkan diri sendiri bahwa sebenarnya mampu tidaklah mudah tidak seperti mudahnya memotivasi orang lain. Makanya aku berpikir bahwa untuk menjadi sesuatu yang diinginkan tidaklah harus mencari keluar cukup cari pada diri sendiri. Ketika sudah menemukan sesuatu yang benar benar dirinya barulah keluar kemana engkau akan berambuh. Dalam tulisan ini aku juga ingin mencatatkan sebuah puisi untuk anak ku kelak. Anak anak ku ketika engkau lahir aku ingin berkata padamu.

Anak ku
Jadilah kuat dengan dirimu sendiri
Anak ku
Jadilah panutan pada masa umurmu
Anak ku
Jangan lupakan yang telah menciptakanmu
Guru mu
Ibu mu
Begitu juga aku
Anak ku
Hidup bukan perkara mudah
Amanah sudah engkau emban
Sejak mulai kau bernafas
Anak ku
Menangislah
Ketika ada yang patut engkau tangisi
Tersenyumlah
Ketika ada yang membuat mu tersenyum
Dan bersedihlah
Karena pada dasarnya
Bersedih juga kebutuhanmu
Anak ku
Bacalah

Wonosobo. 01/07/2019


Comments

Popular posts from this blog

Bersama Rojab

Kipas angin membantu aku berpikir. Malam yang semakin sunyi membisikan kata "tidurlah, sudah malam alfin". Gangguan dari makhluk tak berkasat mata juga perlahan lahan mulai kasar. Menderu, bersuara pelan sambil menertawakan.  Malam ini tidak ada pensil dan kertas, hanya satu laptop, buavita, Hp Xiomy, korek, gudang garam dan suara orang yang sedang berdiskusi. Makhluk tuhan yang bernafas sudah banyak yang tertidur, lelah terkena teriknya matahari siang. Tidak ada suara apapun dari mereka, hanya orokan yang sesekali bersuara mengagetkan. Malam ini aku kembali merenungi, bahwa aku telah jauh dari diriku sendiri. Aku menjauh dari apa yang seharusnya aku dekat. Semua berjalan begitu dekat hingga aku lupa pada hari hari yang telah dimuliakan oleh baginda rosul.  Mulai dari hari ini aku tersadar dan besok pudar kembali. Sudah menjadi satu hal yang biasa terjadi. Melupakan janji diri sendiri yang selalu terucap di kamar mandi sudah biasa juga aku lakukan. Aku menjadi sak...

gundah

Gundah mendengar adzanmu Pikir tumpul terhenti Tak menghayati dengungan Panggilan suci tuhan Hambar rasa hidup Gerak tasbih meredup Walau ucapan terus menggelutup Semua hanya mengetuk lalu tertutup Susah kalau sudah lupa Hanya menatap langit lalu membisu Tak ada pikir apalagi emosi Ya allah, mau jadi apa aku ini Depok, 10-02-2019

Memulai

  Malam hari ini aku tersiksa dengan kebiasaan yang melingkupi. Ada kejenuhan yang perlahan mulai menggerogoti naluri untuk berkreasi. Banyak hal yang saya lakukan tapi juga   banyak yang harus saya tinggalkan. Menjadi seimbang memang gampang ketika diucapkan. Sudah sekian lama aku tidka bergelut dengan bacaan dan tulisan. Rasanya hampa tak bertepi seperti senandung lagu lagu kerena jaman sekarang. Rasanya tak berasa lagi bahwa aku pernah menjadi pelajar yang selalu bejar. Masa lalu memang indah untuk dikenang tapi masa lalu kemarin cepat sekali menjadi pengingat untuk saat ini. Aku bingung. Mulailah…..Mulailah dari kebingungan yang melanda. Bercerminlah.