Skip to main content

Posts

Karaoke

Baru pertama aku Menerbangkan nada dan cinta Dalam ruang berbau maksiat cinta neraka Sungguh aku sangat tegang Ketika musik mulai menggelegar Mengisi ruang panas bergelimpang uang Aku pun selalu berpikir Mengapa banyak orang rela Menghamburkan rezeki hanya untuk bernyanyi sepi Oh Negeri…Ngeri sekali ruang itu Iman mungkin akan berbicara jujur             Dirimu baik atau kurang ajar Aku jadi semakin yakin Memang tuhan membebaskan manusia untuk berbuat Tidak usah ditanyakan lagi Apakah tuhan itu ada? Tentu aku tahu Bahwa tuhan ada didalam dirimu. Depok, 19 Maret 2018

Kering

Ku dengar bisikan daun yang bergoyang Mengatakan bahwa aku telah lenyap “Tidak ada kata lagi yang bisa ditulis Dalam kertas, batu, rasa atau pikiran” Katanya                 Memang benar “ daun”                 Aku telah lemah                 Mimpi ku Sudah hambar tiada rasa                 Mengering terbakar langit senja                 Beterbangan kemana saja tanpa arah Kenapa kau bisa begitu? Sudah lupakah dengan coretan hidup yang ditulis Lupakah untuk bercerita Atau memang saat ini sudah benar benar terdiam dan berlumut. Depok, 18 Maret 2018

Pembenaran

Sudah gila memang lakon di negeri ini Tidak habis pikir apa yang dilakukannya Cara cara dilakukan tanpa pikir pikir Hanya bungkam melupa dari sangkaan                 Aku semakin bingung                 Apakah mereka beragama?                 Ah tapi aku yakin mereka punya                 Teriakan keadilan dan moral selalu mereka ucapkan kog Memang saat ini banyak pembenaran dari pada kebenaran Sampai sampai Tiang Listrik jadi korban Lucu memang Hanya di Indonesia mungkin ini terjadi Ya sudahlah Gagal paham terhadap realita semakin subur dimana mana Berdalih terhadap hukum yang dibuatnya menjadi payung atas kekuasaaannya Walau kalau ada pelanggaran, hukumnya ba...

Lupa Pijakan

Tidak ada yang ku pikirkan saat ini Tulisan hanya sekedar tulisan Tanpa ada makna yang tersampaikan Kebingungan membumbui jiwa raga Langkah tak pasti ke kanan atau ke kiri Gejolak hati untuk memulai perubahan Di hentikan oleh pikiran yang berjalan stagnan Entah apa yang terjadi Hingga rasa ini benar benar mati Ada ambisi namun bayangan kenyataan membuat aku takut Takut untuk memulai Takut untuk menjalani Bahkan takut untuk mengakhiri Apakah ini? Yang dinamakan mati dalam hidup Apakah ini? Sepi dalam keramaian Apakah ini? Orang yang belum menjadi orang Apakah ini? Bukti bahwa hamba belum bersyukur. Depok, 18-09-2017

Rohingya

Sejak dulu kala aku mendengar sejarah Dari Koloni yang berkuasa sampai ironi yang saat ini terjadi Aku juga pernah melihat Tentang kemakmuranmu sampai saat ini susah payah Berbagai tudingan di sematkan Oleh  mereka pemegang kekuasaan Rohingya Kau saat ini masih manusia Yang butuh makan, minum dan segala aktivitas biasa Kau bukanlah kotoran yang seenak di buang kesini kesana Dengan alasan tanpa logika manusia Rohingya Oh Rohingya kau tertulis dimana mana Di online ataupun offline Hanya satu yang diharapkan Kau hidup bagaimana layaknya kehidupan Memang tidak mudah untuk menjalani Sebelum semua dudukan kursi berdiskusi Butuh waktu panjang untuk mengakhiri Tapi cukup untuk saat ini Bahwa sebagian kalian masih bisa hidup walaupun cuma mengungsi Jangan ada lagi berita tentang kematian dan penyiksaan atas kelian manusia ciptaan tuhan Depok. 11-09-2017

Sepenggal Cerita dari Purwodadi

Siapa yang tidak kenal dengan Gunung Kidul. Daerah yang terkenal dengan pegunungan kapur dan ombak besar ini menjadi tempat salah satu tempat pilihan untuk kegiatan Research Camp. Sudah lama saya menantikan kegiatan ini. Tepatnya di desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, kabupaten Gunung Kidul. Untuk menuju kesana dapat ditempuh melalui berbagai jalur. Hal ini di karenakan akses banyak dari akses jalan sudah bagus. Saya dan teman teman saya berangkat dengan menggunakan dua jenis kendaraan yaitu Kereta dan Bis. Keberangkatan kami di mulai dari stasiun Gambor. Pengalaman saya yang kampungan adalah ketika ini pertama kalinya saya naik kereta eksekutif. Saat perjalanan saya banyak ngobrol dengan wanita yang duduk di samping saya. Kebetulan wanita itu berasal dari Purworejo. Wanita itu berkata bahwa saat ini dia sedang menempuh pendidikan sarjanya di Univesitas Indra Prasta. Dari segi umurnya wanita ini sudah tidak muda lagi. Bahkan dia sudah menikah. Namun, dengan cerita yang diceritakan wanit...

An Nawawi

An Nawawi Masih kah kau seperti dulu Rindang tenang di dekap pohon tebu Tempat para penyair bersua ilmu An Nawawi Masihkah kau seperti dulu Ramai lantang mengingat tuhannya Dalam balutan kopiah serta putaran tasbih An Nawawi Masihkah kau seperti dulu Gemuruh hafalan kitab kitab ajaibnya Yang membuat badan ini rasa ingin bergoyang An Nawawi Masihkah kau seperti dulu Panci bersuara membagikan rasa bahagia sambil tertawa bercerita tentang duka cita dan cinta An Nawawi Masihkah kau seperti dulu Suara rindu menyampaikan salawat Kepada baginda Rosul Muhammad An Nawawi Masihkah kau seperti dulu Kalung unik menggantung leher Bagi mereka pencuri ember An Nawawi An Nawawi Sampaikan bahwa kami rindu Kepada kyai dan seisinya Rindu ketika beliau bercerita Tentang sejarah dan pengalamannya Rindu kepada satir tempat kami curhat Tentang ekonomi, agama, guyonan, dan cinta Sampaikan kepada penghuni saat ini Jangan ubah An Nawawi jadi Diskotik Terang ...

Kurban

Sudah ketiga kali qurban di tanah orang Tanah yang selalu ku pijak untuk mencari jalan hidup Tanah yang membuat pikiran ini jadi beragam Tentang kesamaan dan perbedaan Sudah banyak langkahan kaki ini menginjak Namun belum banyak yang dapat ku perbuat Walau hanya sekedar qurban Qurban? Iya qurban. Dengan serentetan sejarah dan kisah yang tertulis Sudah hafal bahkan paham hati dan pikiran ini mengerti maknanya Sering ku ceritakan ke banyak orang Namun apa daya secuil pun belum mampu ku perbuat Kadang kepal tangan ini ingin ku hantamkan Pada mata, telinga dan mulut Akan ku tanya tentang apa yang dilakukan selama ini Sampai otak ini berpikir tentang hal itu Depok, 1 September 2017

Amnesia

Malam Selamat malam aku ucapkan Kepada dikau pembawa hati Tertegun aku dalam sunyi Melihat dikau hitam tak terlihat Malam selamat malam aku kabarkan kepada dikau penikmat kalam Haus pikiran dalam ingatan akan dikau yang berjilbab panjang malam selamat malam kau dengarkan lewat langit yang bergumam pelan melantunkan kalimat suci nan cantik saat dikau dan aku terbuai dalam keromantisan malam selamat kau telah mengabarkan bahwa dia baik baik saja malam terima kasih atas segalanya depok, 06-08-17

Cerita dari lereng Gunung Sumbing.

Sebuah kisah datang dari anak anak yang terkumpul dalam sebuah lembaga pendidikan membuat saya tergelitik untuk menulis kisahnya.  Kisah datang dari sebuah sekolah baru yang berdiri diatas tanah yang dikelilingi oleh pohon pohon kehidupan pedesaaan. Tentunya dari segala bentuk dan relief daerahnya  menunjukkan bahwa daerah tersebut masih tradisional dan jauh dari peradapan. Namun, dengan segala yang ada. Daerah tersebut mampu berdiri sebuah lembaga pendidikan yang di namanakan MA An Nawawi Sarwodadi. Saya sendiri pun tidak menyangka dan bahkan tidak percaya kalau ada sebuah sekolahan dalam wilayah tersebut.  Kondisi sekolahnya pun masih sangat sederhana. Pertama kali melihat sekolah tersebut kondisinya masih jauh dari apa yang selama ini saya ketahui dari sebuah sekolahan. Walaupun masih sangat sederhana, harapan orang orang yang membangun sekolah tersebut sangat luar biasa. Sekolah tersebut di prakarsai oleh KH. Isnudin melalui perintah dari KH. Nawawi Berjan. Sebe...

harusnya kau mengerti

Aku juga berpikir bagaimana aku melakukan Aku juga menahan hati ketika kau berbicara tentang kelakuanmu Kau bicara kerja Kau bicara uang Dan semua itu membuat aku bosan dengan dunia. Aku juga berpikir bagaimana hidup ku nanti Aku  selalu berjalan walau tak pernah kau temani Kalau kau memaksa jangan panggil aku lagi Mending kau hidup bahagia dengan karya karya yang kau punya Kawan Hidup ini tidak hanya soal karya, uang dan tahta Hanya diri sendiri yang mengerti tentang rasa Setiap nyawa punya ruang untuk kenyamanannya Mungkin nyamanmu saat ini bukanlah kenyamananmu  buat aku. Dan mungkin jalan yang kau jalani bukan jalan buat aku. Ayolah kawan Jangan kau buang waktu hanya untuk menceramahi Hanya memotivasi tanpa mengerti isi hati Mungkin kau merasa kecewa dengan aku Karena aku tidak seperti kamu ketika dulu

Jangan kau sangka

Kadang aku mulai merasa Keramain membuat aku lupa Atas  segala ucap ayah dan bunda Saat  dulu pertama berpisah dalam rasa yang tak sama. Tak letih aku terus berpikir Bagaimana aku harus bersikap berucap Dengan kondisi dan ambisi yang tak sesuai Di tambah aku yang terus terbuai bersama dunia ku Oh kasihan sekali manusia ini Terombang ambing dalam lautan ketenagan orang lain Dalam dirinya mulai timbul rasa takut Dari angan angan yang terus menanyakan kelanjutan hidup Aku pun mulai terbisu Tangan tak mampu  bergerak apalagi sekedar memegang pena Mati mati…. Apa daya  diriku di lingkaran ini Terus memutar tak bisa keluar Semoga doa dan ibadah yang dijalani tak  membuat semua jadi makar.

Tapak batas

apa yang akan kupertanyakan? jika hantaman pernyataan terus menghujamku apa yang harus ku perbuat? jika kenyataan terus meninggalkanku aku... ditapak batas ini berteriak tanpa suara, menangis tanpa air mata mencari celah dimana aku bisa bersembunyi di tapak batas ini kehampaan melanda hidup dan diriku bagaikan sahabat karib bersapa menanyakan " hai, mau pergi kemana?" aku hanya tersenyum dan hidup terus berjalan ah... ditapak batas ini dapatkah ku hanya memejamkan mata? Hai kau..... Wanita yang kuat. Pejamkanlah mata sesuka dirimu. Tak ada yang menghalangi kecuali jiwa dan pikiranmu. Hapus memori yang memberatkan Buka mata dan terus jalani dalam batasmu Jangan  pernah merasa sendiri Ada senyum tawa ku yang akan mengisi Di hari yang kau nikmati Dalam tapak batas yang itu semua hanya ilusi. Depok, 01 April 2017 #gabut

Rupa tak berupa

Hai kau Sudah lama tak tertulis Kata hati yang bergumang bicara Merasa sakit dalam sehatnya Terbelenggu cita yang hanya suara Hai kau Sudah tak mampu mau berkata apa Tanganpun eggan bergerak dalam kodratnya Menyisakan alur hidup yang biasa Dalam harapan mereka yang berdoa Hai kau Bangun dan bangkitlah Jangan hanya menjadi darah Berjalan menapakkan luka Tanpa rasa sesal yang kau buat Depok, 9 Februari 2017

Miris

Sore ini Kembali aku catatkan Luka negeri yang tak terobati Hanya karena sekedar tutur kata penuh makna Namun, Sangkut paut kanan dan kiri jadi finalisasi Sebuah kebenaran sesuai kondisi Dimana kekuasaan dan kekuatan yang dicari Sakit, Melihat semua  dalam krisis Serasa Moral sudah tak ada Dibunuh oleh kata” Penista” Depok, 3-2-2017

kembali

Kembali terbuka mata Dalam alur hidup tak terbaca Hanya anganlah yang mampu mengira Hari esok mau terjadi apa Kuatkan hati yang tak bertulang ini Agar tetap terisi iman dan amin Tak selamanya menggerutu Bersama nafas yang di hirup slalu Depok, 2 Januari 2016

Kembali Sunyi

Kembali lagi Mata ini Melihat bintang bintang berkelip menyapa hati Lentera yang menyala Mengingatkan akan hidup  begitu sesederhananya Berirama sautan tetangga Meneriakkan lantunan sholawat Beramai ramai menuju teriakan toa Sembah doa sebagai kewajiban atas hidupnya Rindu malam pun terasa ramai Akan hadirnya tawa dari candaan kecil anak anak negeri Berlarian mencari kesenangan Sampai tangis menghentikan segala angan Teganya aku meninggalkan suasana ini Yang mungkin hanya untuk sekedar mencari nasi Ke tanah dimana orang orang berdiri Dalam kesendirian tanpa ada yang menemani Kampung halaman, 10-01-2017

Lapor

Lapor! Laporan anda tidak benar Tunggu! Aku akan balik melapor Semakin tebal kertas ini menumpuk Tangan tangan terpaksa menulis tentang subjektivitas Benar dan salah Mungkin demo yang terjadi akan jadi boomerang Saat semua hancur tak tersisa Mereka yang berbaju Tidak sadar  kekurangan masing masing Hanya benar bisa di kata siapa yang dibela Se enak kata bilang kesana kesini Tebar bingung kepada kami rakyat pribumi Semua tutur meyakinkan Bak seorang penyair mengotak atik kata Menyambung kanan kiri membuat gagasan Sedih melihat ini Kenyamanan kedamaian hilang tak berujung Oleh mereka para agenda setting  terpandang Yang menyuap kami basa dan basi Tak bernutrisi Tanah kelahiran, 18 Januari 2017

Selamat Ulang Tahun

Riuh terdengar angin malam berlarian Membangunkan jari jemari untuk bergerak Menuliskan apa yang ada dalam rasa Yang diharap akan benar terjadi adanya Sudah lama ku tunggu Kehadiranmu saat  aku ada dalam tempat dan waktu yang sama Bersipuh menghadap arah hati yang diidamkan Menantikan datangnya waktu menjawab semua doa Semakin lama semakin kepala ini menunduk Hormat bangga atas semua yang dilakukan Tangan ini juga tak lepas dari gandengan Siang malam memohon agar kau diberi keselamatan Malam ini bukan hanya raga jiwa ini Rumput pepohonan merangkak melantunkan sabda “barokallah fi umrik” Kepada dirimu yang tertutup helaian kain Do`a dan harapan tak bisa aku ucap Hanya apa yang kau tulis dulu itu Dapat juga mengalir dalam alur kehidupanmu Yang aku rasa lebih cepat akan  terjadi. Kalitengah, 10-01-2017

Guyonan cinta

Sudah lama tak bertegur sapa Setelah enam pertemuan tanpa makna Hanya tanya” bagaimana kabar dan lagi apa” Dan masih sama Saat kau masih berjilbab ala kaum muda Sampai saat ini jilbab tak ada rupa Inikah anugerah Atau musibah Atau jawaban doa yang aku panjatkan Tapi kenapa gak enak ya Haruskah ku tarik aja mungkin Tapi aku jadi bingung Sudahlah, bapak ibu juga belum rela Kalau aku  menafkahinya. Depok, 25-12-2016